Tiga puluh hari mencari cinta
Waktu telah berjalan dua puluh menit sejak seorang berperawakan tinggi kurus berkaca mata tebal memasuki sebuah toko buku “Golden Millenium” di kawasan jalan Terang, tak jauh dari kantor pos Surakarta. Ia sedang sibuk memilih buku teristimewa yang akan diberikannya pada sahabat seangkatannya, yang akan segera menyambut hari bersejarahnya saat ia keluar dari rahim ibunda tercinta. Tinggal sepekan lagi, pas dengan hari pertama bulan puasa. Sambil memencet-mencet tombol di telepon selulernya, cowok berusia tak kurang dari dua puluh empat tahun itu tiba-tiba tertuju pada sebuah buku yang menurutnya sangat menarik, masih dilihat dari judulnya tentunya. “Ancaman Bagi Sang Playboy”. Tak puas sampai di situ, ia juga merasa harus mengambil buku tepat di samping buku pertama yang menarik perhatiannya. “Kisah Nyata Playboy Menjadi Ikhwan Sejati”. Langsung saja ia disibukkan untuk memilih di antara dua buku yang makin menyita waktunya.
“Sayang sekali bukunya disegel! Sialan tuh produsennya, pelit banget! Gue kan jadi nggak tahu isinya!” umpatnya pedas hingga seorang ibu-ibu yang berdiri di samping cowok itu menggeleng-geleng kepalanya pertanda bahwa ia sedang berkata dalam hatinya, “Dasar anak muda, maunya sendiri, egois!”
Seperti merasakan hal itu, Fandi, nama cowok itu, melanjutkan aksi nakalnya.
“Enaknya, apa ku sobek aja ya plastiknya? Hmm, ide bagus!” dengan nada mengetes si ibu tadi, Fandi berpura-pura akan mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeans-nya.
“Eh Nak Nak, jangan macam-macam ya. Ini toko buku. Jangan sembarangan merusak barang-barang di sini,” kata si ibu dengan nada setengah membentak.
Fandi tersenyum. “Siapa bilang ini toko onderdil Bu? Akhirnya, bicara juga, he he?!” batin Fandi penuh kemenangan. Tanpa menjawab semburan si ibu tadi, dalam sekejap ia telah berhasil memilih salah satu buku yang sempat membuatnya bingung. Kali ini, ia yakin bahwa buku yang dipilihnya adalah pilihan yang tepat. Segera ia menuju ke kasir dan membiarkan si ibu menyaksikan bentakannya pada Fandi, menguap tak berarti. Dengan segenap rasa cueknya, Fandi berjalan tanpa beban ke arah kasir di lantai dasar toko buku tersebut.
Setelah membayar, Fandi tak punya niat lagi untuk pergi ke manapun. Ia hanya ingin segera membungkus buku itu dengan kertas kado bergambar spiderman yang telah ia persiapkan tadi malam. Segera ia masuk ke dalam angkutan kota menuju kontrakannya dan tetap menggenggam tas kresek berisi buku yang baru dibelinya.
Lima menit berlalu dalam angkutan kota yang makin sesak oleh para penumpang. Dasar si Fandi yang kurus, ia hanya mendapat tempat duduk kira-kira lebarnya cuma lima belas sentimeter. Oh, kasihan sekali dia. Hampir saja ia berhenti bernapas karena tempat duduknya begitu sempit sebelum akhirnya ia berhasil mengerahkan segala kekuatan untuk segera meminta si sopir menghentikan laju kendaraannya.
“Kanan Pak kanan Pak!” teriak Fandi tak tanggung-tanggung.
“Hei, mana mungkin angkot berhenti di kanan jalan seramai ini! Mau bunuh diri apa??!! Dasar goblok!!” bentak si sopir dengan kasarnya membuat Fandi sedikit gemetar dan sesaat ia lupa atas apa yang ia lakukan sebelumnya karena belum pernah ia dibentak oleh seorang sopir angkot. Sontak semua penumpang melepaskan tawa ejekan pada Fandi dan semua wajah yang sama sekali tak dikenalnya dalam angkot itu tertuju padanya. Jantungnya berdegup kencang.
“M-maaf Pak! Saya kira angkotnya berjalan di sebelah kanan!” jawabnya dengan muka bodoh.
Kembali tawa ejekan yang menyayat hati si kurus itu terdengar begitu lama di telinganya.
“Nggak lulus TK aja, sok banget sih lu!” komentar seorang laki-laki berwajah garang dan berkumis tebal tanpa perhitungan.
Angkot telah berhenti semenit yang lalu. Sekarang Fandi bingung apa yang harus diperbuat. Jantungnya masih berdegup kencang. Rasa bingungnya makin memuncak setelah sadar di mana ia harus meletakkan mukanya yang terlihat merah. Malu. Lalu, ia hanya diam kaku di tempat duduknya yang tak berubah, masih sempit.
“Hei, malah bengong ni bocah. Ayo turun!!” bentak si sopir untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini tak sekeras yang tadi.
Tanpa berpikir panjang, Fandi langsung turun dan berjalan dengan langkah gontai di atas trotoar. Sebelum bisa menenangkan pikirannya, seorang memegang pundaknya dengan kasar.
“Memangnya kamu ini pak presiden apa, maunya naik angkot nggak bayar, heh!!” Ternyata orang itu adalah sopir angkot tadi. Fandi seakan putus asa. Masih belum selesai juga masalahnya hari itu.
“M-maaf Pak, saya lupa,” jawabnya dengan kepala tertunduk.
“Sudah goblok! Pelupa lagi! Sekolah di mana sih?”
“Di UNS Pak!” Jawab Fandi layaknya orang yang terhipnotis.
“Oo, jadi seperti ini ya mahasiswa UNS! Buruk sekali! Baiklah, bayar sekarang. Sepuluh ribu!”
“Lho Pak, setahu saya bayar angkot nggak semahal itu!” protes Fandi dalam keraguan.
“Ini sebagai pajak atas kelakuanmu yang membuatku sebal!”
“Rasa sebal itu datang sendiri dari diri Bapak sendiri. Jika Bapak bisa lebih sabar menghadapi saya yang hanya manusia biasa, Bapak nggak akan sesebal ini pada saya,” tiba-tiba perkataan Fandi begitu terarah. Ia sendiri merasa ada sesuatu yang beda dari perkataannya barusan.
“Jangan cerewet! Banyak penumpang marah gara-gara kamu memperlambat perjalanan mereka! Cepat serahkan uang sepuluh ribu itu!” bentak si Sopir bak seorang tukang todong.
Ingin segera selesai masalahnya, Fandi langsung mengambil uang kertas berwarna ungu dari dompet kulitnya dan menyerahkannya dengan berat hati pada sopir garang itu. Kemudian, sopir angkot itu langsung pergi meninggalkannya setelah tak berkata sepatah pun kepada Fandi yang masih shock dengan kejadian menyesakkan hari ini. Segera ia menuju kontrakannya seakan tak ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Pikirannya kembali pada hadiah istimewa yang akan diberikannya pada sahabat karibnya tujuh hari kemudian.
^_^
“Fan, udah makan? Ni aku buatkan mi rebus. Sejak siang aku nggak lihat kamu makan. Tambah kurus nanti,” tanya teman sekontrakan pada Fandi, bak seorang ibu yang menawari makanan untuk anaknya.
“Kamu kok tampak lesu banget sih? Ada masalah?” tanyanya kemudian.
Untuk saat ini, Fandi sedang no comment. Temannya itu tambah penasaran. Ia lalu meletakkan semangkuk mi rebus buatannya di meja belajar Fandi. Ia mendekati Fandi yang sedang asyik menatap langit-langit kamarnya.
“Lagi mikir apa sih kok serius banget sampe nggak mau makan? Kamu nggak suka mi buatanku ya? Ya sudah, aku makan sendiri aja!”
“Eh eh eh, tunggu. Bukannya aku nggak mau. Aku emang lagi mikir nih!” jawab si Fandi dengan wajah begonya.
Temannya tersenyum melihat Fandi yang plin plan.
“Lagi mikir apa sih? Bikin penasaran aja Fan. Habis ditembak cewek ya?” tanyanya sambil cengengesan.
“Aku lagi mikir, kenapa kamu yang dulu seorang playboy, sekarang jadi perhatian sih, Dan?” Fandi langsung ceplos pada sahabatnya sejak SMA itu yang bernama Ardan.
Ardan yang tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti, menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia tak mengerti maksud Fandi. Ia yakin kalau temannya yang mempunyai berat badan 48 kilogram itu hanya bergurau. Ardan diam. Fandi pun diam. Suasana hening. Entah kenapa malam ini tampak berbeda dengan malam sebelumnya. Fandi yang sering bicara asal-asalan, kini tampak serius. Sementara itu, Ardan yang sebelumnya cuek dengan jadwal makan Fandi, tiba-tiba saja menawarkan semangkuk mi rebus untuknya dan tampak menaruh secuil perhatian padanya. Sepertinya, tak hanya Fandi yang dapat masalah setelah peristiwa konyol tadi siang. Tapi, Ardan juga menyimpan sesuatu dalam pikirannya yang tak diketahui sahabatnya. Fandi pun sebaliknya.
“Aku merasa ada yang aneh malam ini,” Ardan kemudian memecah keheningan malam yang disertai hembusan angin di luar sana.
“Apa yang membebani pikiranmu, Fan? Aku melihat sesuatu yang hilang dari raut wajahmu. Di mana muka humoris yang setiap hari selalu terpampang di wajahmu heh?” tanya Ardan.
Akhirnya, Fandi memutuskan untuk menceritakan apa yang dialaminya siang tadi. Ardan mendengarnya dengan seksama. Dan, Ardan pun ternyata bisa menangkap pesan dari cerita Fandi. Seperti yang ia duga, mata Fandi berkaca-kaca setelah menceritakan sesuatu yang mengingatkannya pada kejadian setahun lalu. Sesuatu yang amat menyakitkan hati seorang Fandi yang sejatinya pandai melawak. Sesuatu yang tak terlupakan dalam hidupnya. Sesuatu yang membuatnya selalu terbebani perasaan berdosa hingga malaikat maut mencabut nyawanya.
Sore itu, Fandi sedang asyik bermain game di komputernya. Ia hanya ingin me-refresh otaknya sehabis mengerjakan soal-soal ulangan semester akhir. Ia berharap tak seorang pun akan mengganggunya di tengah keterlenaannya memainkan setiap aksi game dalam komputernya. Akan tetapi, harapan seorang yang sedang terbuai oleh dunia, ternyata hanya tinggal harapan. Ibunya dengan panik masuk ke dalam kamar Fandi dan menyuruhnya membeli obat di apotek. “Asma ayah kambuh! Tolong cepat belikan obat di apotik ASRI, Fan! Jangan lama-lama!” Fandi yang kini benar-benar dimabuk game, tak segera merespons perintah ibunya. “Sebentar Bu, tanggung nih. Masih asyik!”
“Ayoalah Nak! Ibu tak bisa berangkat, Ibu harus mengurus ayah! Mana mungkin adikmu ke apotek sendiri naik sepeda? Itu akan memakan waktu lama Nak!” ibu Fandi makin panik dan memohon agar putranya segera bergegas.
“Ibu saja yang beli, Fandi yang jaga ayah!” timpal Fandi yang masih belum berpaling dari komputernya. Dasar, anak bandel!
Akhirnya, ibu yang tak ingin berlama-lama, mengiyakan permintaan Fandi yang sebenarnya tak disetujuinya. Namun, apa boleh buat. Dengan tergesa-gesa, ibu langsung men-starter motor dan dengan kecepatan tinggi menuju satu-satunya tempat yang ada dalam pikirannya. Apotek.
Memang dasar Fandi. Setan telah menutup hatinya untuk menghampiri sang ayah yang kesulitan mengambil separuh nafas. Justru adiknya yang berumur tujuh tahun, yang melayani ayahnya. Setengah jam kemudian, si adik berteriak histeris. Fandi terkejut bukan main. Segera ia menuju sumber suara jeritan adiknya. Melihat adiknya berlinangan air mata, jantung Fandi seakan berhenti berdetak.
“Kak, ayah meninggal!” dengan suara serak, si bungsu mengatakan sesuatu yang tentu sangat sakit di telinga kakaknya yang masih berdiri mematung di dekat daun pintu kamar ayah. Tiba-tiba, telepon rumah berdering menyayat hati. Pikiran Fandi kacau. Dengan langkah lemas, ia menuju sumber suara yang kedua. Tak bersemangat ia mengangkat gagang telepon. Lalu, ia tempelkan gagang telepon tersebut di telinganya yang terasa terbakar.
“Halo,” kata orang di seberang.
Fandi tak kuasa menjawab.
“Halo, apakah ini benar nomor Bapak Nurdin?” lanjut suara itu.
“I-iya, A-anda siapa?” tergagap Fandi menjawabnya.
“Maaf, telah terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang wanita berusia sekitar 43 tahun, atas nama ibu Miranti. Apakah ibu Miranti keluarga Anda? Kami temukan KTP di dalam dompet yang kami temukan di tas korban,” jelas suara di seberang dengan penuh keseriusan.
Seketika sekujur tubuh Fandi lemas seperti tak bertulang. Ia terduduk lemas. Gagang telepon sudah lepas dari genggamannya. Ia merasa dunia akan segera kiamat. Tiba-tiba kepalanya melihat segala perabot rumahnya berputar, begitu juga dinding rumahnya. Dan akhirnya, ia tak melihat apa-apa. Gelap.
Kehidupan Fandi selalu terbayang oleh akibat buruk dari keberaniannya menantang perintah seorang ibu dan kali ini, tepatnya siang tadi, ia telah berani mengerjai seorang ibu di toko buku. Dan hal itu menyebabkan Fandi mendapat balasannya tanpa menunggu berhari-hari, namun tak sampai sejam setelah itu. Ia dipermalukan oleh banyak orang di dalam angkot. Fandi seperti kembali pada masa setahun yang memilukan itu.
Melihat keadaan Fandi yang tertekan, Ardan berusaha menghibur sahabatnya.
“Sudahlah Fan, ibumu akan memaafkanmu. Yakinlah. Berdoalah untuknya. Juga untuk ayahmu.”
“Semua telah terlanjur, tapi aku baru menyesal. Sungguh bodohnya aku saat itu. Ibu, maafkan aku yang durhaka ini. Aku tak kan pernah tahu seberapa besar dosa yang kutanggung dulu hingga sekarang,” tiba-tiba wajah Fandi merah. Segera ia tertunduk sambil menutup kedua matanya. Ia semakin teringat akan kematian dua orang yang sebenarnya amat dicinatainya, yang terjadi dalam jangka waktu sangat singkat. “Itulah hukuman buatku,” desahnya.
Ardan sedikit bingung menghadapi keadaan Fandi yang sangat tertekan jiwanya. Ia melihat Fandi yang sekarang bukanlah Fandi saat di SD, SMP, dan SMA. Dan bukan Fandi beberapa hari lalu yang masih kelihatan aslinya, suka melawak. Ardan pun segera ingat bahwa ia juga memiliki masalah. Tapi masalahnya sangat jauh berbeda dengan masalah Fandi. Kemudian, ia putuskan untuk mengutarakannya pada Fandi, sebab Ardan yakin ia akan suka dengan masalah yang ia hadapi. Dulu sih seperti itu. Tapi, masalah apa gerangan yang disukai orang? Aneh!
“Fan, aku juga punya masalah rumit. Bisakah kau membantuku? Kamu tak perlu terlalu bersedih. Dan menurutku, kamu tak pantas untuk itu.”
Langsung saja si Fandi mengangkat kembali mukanya. Dalam hitungan sepersekian detik, wajah Fandi telah kembali ke keadaan semula. Sungguh Fandi yang aneh.
“Masalah apa Dan?” tanyanya dengan sejuta tanda tanya.
“Emm, sebelumnya aku ingin tanya sama kamu. Enak mana sih pacaran sama nikah? Trus, apa sudah pantas mahasiswa semester tujuh menikah?”
“Ha ha ha, dari dulu, selalu saja seperti itu masalahmu Dan!” goda Fandi yang kini benar-benar kembali seperti awalnya. Seraut muka sedih beberapa saat lalu telah lenyap ditelan bumi.
“Yah, itulah resiko jadi orang tampan,” jawab Ardan enteng sambil menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. Bergaya maksudnya.
“Wuih, sombong banget. Ya deh, aku percaya aku percaya. Emang kamu adalah salah satu manusia beruntung di dunia ini. Calon dokter lagi. Pasti bakalan kaya deh. And, cewek-cewek pasti mabuk deh liat kamu,” timpal Fandi sambil nyengir.
“Trus, jawabannya apa Fan?”
“Ya, kalau liat pengalamanmu dulu, mungkin lebih enak pacaran kali. Buktinya, kamu udah berapa kali ganti baju, heee, maksudku ganti cewek. Tapi, apa kamu nggak capek kayak gitu terus? Mendingan langsung aja nikah sama empat cewek. Beres!!”
“Enak aja kamu! Gini gini aku tuh tahu ya kewajiban seorang suami. Emangnya mudah apa, ngurus empat istri, heh?!”
“Nah, brati nggak enak kan punya banyak istri. Oh ya, kan ada slogan tuh, dua anak cukup. Artinya, dua istri cukup.”
“Sialan kamu Fan! Belum tentu per istri tu satu anak! Bisa saja istri yang satunya nglairin 20 anak!” jawab Ardan mulai sebal.
“Nah, dari semua itu, mending nggak usah nikah dulu Dan. Kayaknya kamu nggak siap banget. Nikah, emang awal-awal mudah, tapi setelah itu, hmm, bakal lebih asyik!” celoteh Fandi.
Perkataan Fandi membuat Ardan harus memutar otaknya. Namun, Fandi berharap temannya itu bisa menarik kesimpulan dari apa yang telah mereka bicarakan. Ya, itulah keistimewaan Fandi. Memecahkan masalah harus melalui proses pemikiran yang bertahap. Dan, pelaku yang bermasalah, ia harapkan bisa mengambil kesimpulan sendiri. Kini, ia berharap Ardan akan segera menemukan jawabannya. Fandi dengan sabar menunggu.
“Iya ya. Brati kalau mo nikah harus siap lahir batin dulu dong. Dan, kalau dipikir-pikir, sepertinya aku belum siap. Artinya, aku nggak nikah dulu. Apa begitu Fan?”
“Seratus! Akhirnya, lama banget sih mikirnya. Ya udah, saranku kamu nggak nikah dulu. Sabar bung, tinggal nunggu nggak sampe setahun, mungkin kamu udah jadi dokter. Barulah kamu bisa nikah.
“Tapi…,”
“Aduuh, ada apa lagi Dan?”
“Aku mo tanya ma kamu, akhwat tu emangnya gimana sih bedanya sama cewek-cewek biasanya?”
“Aah, sialan kamu Dan. Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku sekarang udah ngantuk banget! Jadi, ni baru masuk ke acara inti? Ah, besok aja! Aku udah nggak bisa mikir nih. Udah, jadiin mimpi dulu deh!”
“Tapi….”
“Oya, nanti malam kan ada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2010. Nah, waktu tu aja kamu curhatnya. Plizz, aku capek nih!” pinta Fandi yang matanya udah memerah. Emang udah ngantuk kali.
“Ya udah deh! Tapi, mi rebusku gimana nih. Dingin sudah!” Tiba-tiba Ardan teringat dengan masakan buatannya.
“Sori, aku udah nggak lapar. Makan aja sendiri. Oya, sebelumnya makasih udah mau mbuatin. Besok lagi yach….”
Ardan tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia lalu teringat dengan tawaran dosennya untuk menikahi putrinya, meski dosennya itu menyampaikannya dengan nada bercanda. Namun, cukup membuat Ardan salah tingkah. Sungguh, sebenarnya ia belum siap untuk itu. Tapi, sebagai asdos, Ardan akan merasa sungkan untuk menolak. Dan, untuk saat ini, baginya menikah adalah sesuatu yang sangat sakral, asing, dan mungkin ia akan menangis karena ia akan memasuki dunia yang belum pernah sekalipun ia datangi. Pikirannya kusut. Akhirnya, tak mau disibukkan oleh semua itu, Ardan langsung merebahkan tubuh di kasurnya. Tak lama kemudian, ia langsung terlelap. Ia telah memasuki alam mimpinya. Entah, apa, siapa, di mana, dan berlaku sebagai siapa ia dalam mimpinya.
~_^
Rembulan yang enggan menampakkan sinarnya, menemani seorang hamba yang sedang berdua dengan kekasihnya. Hamba yang hina. Hamba yang angkuh. Hamba yang selama ini tak pernah menjumpai kekasihnya dalam keheningan malam yang kan menemani mereka berdua dengan kekhusyu’an dan rasa berdosa seorang hamba. Linangan air mata akhirnya tak terbendung lagi. Kerendahan diri itu semakin memojokkan hamba yang selalu mendulang dosa dalam setiap pergerakan masa menuju akhir dunia fana.
Entah mengapa hatinya terasa lekat dengan Rabb-nya. Sungguh, malam ini takkan terlupakan dalam hidupnya. Seorang mantan playboy cap jempol, lulusan SMA Tunas Muda Magetan ini, tiba-tiba saja merasa rindu pada seseorang. Namun, tak tahu ia, kepada siapa rasa rindu itu tertuju. Makin lama, rasa itu makin kuat membelenggunya. Hingga ia berusaha mengorek masa lalu, saat Vika menggandeng erat tangannya, saat Sinta diboncengnya, saat Intan memberinya empat belas bunga pink dan empat belas batang coklat di hari valentine, dan saat Tika dengan berani menampar mukanya. Tapi, Ardan tahu, rasa rindu itu bukan untuk mereka semua. Mereka telah terhapus dalam hidup Ardan. Ia terlampau lelah melayani dara-dara jelita yang sejatinya hanya sebuah permainan seekor monyet bercinta. Sungguh Ardan merasa tertipu sekarang. Tepatnya, dunia begitu lihai dan cerdik menjermuskan dirinya dalam jurang kehidupan yang hitam kelam nan gelap gulita. Tiba-tiba saja, ia teringat dengan seorang cewek, yang ia tahu sering disebut dengan kata-kata ‘akhwat’, yang sering diceritakan oleh Fandi padanya. Tak jarang pula dulu, saat SMA, Fandi berusaha menjadi mak comblang yang menjodoh-jodohkan dirinya dengan akhwat itu, sebab kata Fandi, akhwat itu juga menyimpan sedikit rasa simpati padanya. Karena berbeda jalur, akhirnya akhwat itu tak dihiraukan lagi oleh Ardan. Dan, selama mereka duduk di kelas satu SMA, Fandi selalu, dan hampir setiap hari menceritakan segala kebaikan akhwat itu di depan Ardan, sebab Fandi sekelas dengan akhwat itu, dan ia tidak sekelas dengan Ardan. Tapi, cerita itu hanya tinggal cerita bagi Ardan saat itu. Namun sekarang, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
“Begitu bodohnya aku. Kenapa aku memilih cewek-cewek cantik berhati sekeras batu daripada memilihnya? Tapi, mana mungkin akhwat pacaran? Apakah akhwat itu masih seperti dulu ya?” batin Ardan dalam hati. Kemudian, ia berusaha mengingat nama akhwat itu. Sambil melihat bulan separuh lewat jendela kamar dalam keadaan duduk di lantai sehabis shalat tahajud, terlintas sebuah nama yang ia yakini bahwa itulah nama akhwat yang mulai merasuki memorinya.
“Mila! Oh, aku baru ingat. Tapi, kenapa aku tiba-tiba jadi mikiran dia ya?? Ah, lebih baik aku segera mbangunin Fandi buat shalat malam, trus nonton bola. It’s better!”
+_+
Malam yang kelam. Angin dengan tanpa perhitungan berhembus begitu kencang. Dua pasang mata yang masih separuh terbuka, telah siap menyaksikan ‘big match’ babak kualifikasi Piala Dunia 2010, Spanyol melawan Jerman.
“Gimana jawabnya Fan? Jangan biarkan aku mati penasaran deh!” Ardan memulai pembicaraan kedua remaja yang telah beranjak dewasa itu.
“Ehm, kalo menurut semua pengalamanku saat aku berkecimpung di ta’mir SMA dulu, kata ‘akhwat’ itu mengandung sebuah arti yang begitu indah. Itu kan dari bahasa arab. Dulu waktu aku ikut kegiatan tafsir, pak Hamid pernah bilang, akhwat dan ikhwan asal katanya dari ukhtun dan akhun yang artinya saudara. Jamak untuk ukhtun itu, akhowaat, kalo untu akhun, jamaknya kalo nggak salah, ikhwaanun. Jadi, kata akhwat dan ikhwan itu seperti serapan. Akhowat jadi akhwat, trus kalo ikhwaanun, jadi ikhwan,” jawab Fandi bak seorang ahli tafsir.
“Trus, maksudmu arti yang indah tu apaan?” Ardan dengan antusias hendak memuaskan rasa penasarannya.
“Hmm, kalo arti itu, maksudku adalah kesan. Kamu tahu tidak, enak banget lho di ta’mir tu. Kesan saling membutuhkan tu kerasaaa banget. Akhwat dan ikhwan pokoknya saling melengkapi. Ya, hanya itu yang sedikit aku peroleh sejak aku ikut ta’mir. Sebenarnya, aku juga belum maksimal menjadi anggota ta’mir.”
“Kalo masalah kamu belum maksimal jadi anggota ta’mir sih, aku udah tahu,” ejek Ardan.
“Oke! Mendingan aku, daripada kamu yang sama sekali nggak pernah nyentuh masjid, ha ha ha…,” Fandi balas mengejek.
“Tapi, bukan berarti aku nggak pernah shalat!”
“Emang sih, tapi shalatmu pasti di akhir waktu and secepat kilat!”
Ardan diam. Dipikir-pikir, emang betul si Fandi. Begitu buruknya aku saat itu. Suka pacaran, nggak pernah ke mesjid, shalat molor, nggak khusyuk. Sungguh terlalu! Pikir Ardan.
“Kamu bener Fan.”
“O, ya jelas…!”
“Ehm, trus pertanyaan intiku bagaimana?”
“Yang mana?”
“Apa bedanya akhwat dengan cewek-cewek biasa?”
“Kalo itu sih, aku nggak terlalu banyak tahu. Tapi, sepengetahuanku, jelas perilaku mereka lebih islami, pakaiannya syar’i, dan menurut kata hatiku, mereka lebih anggun daripada para dating women yang udah pernah kamu nikmatin! Dan, salah satu impian mereka adalah mendapatkan seorang ikhwan yang bener-bener top, top dunia, jos akhiratnya!” Sejenak, Ardan merasa perkataan Fandi begitu menancap dalam hatinya, tapi itu cukup menyadarkannya dari segala keburukan dirinya di masa silam.
Sementara itu, pertandingan pun telah berjalan selama sepuluh menit. Tanpa menunggu lama, partai besar itu berlangsung seru. Fandi mulai berdebar-debar saat serangan skuad Jerman tanpa ampun menggempur pertahanan Spanyol. Namun, dengan sigap Cassilas selau berhasil menyelamatkan gawang tim matador dari aksi-aksi cantik para striker Jerman di gawang lawan. Apalagi, Ballack dan Podolski dengan spirit besar mereka selalu mengecoh para pemain belakang Spanyol. Puyol sempat puyeng dibuatnya.
Fandi memang telah larut dalam keasyikannya menikmati setiap pergerakan si kulit bundar yang tak jauh beda dengan seorang aktor macho yang menjadi incaran penggemarnya. Di sisi lain, Ardan malah semakin penasaran dengan apa yang telah disampaikan oleh sahabatnya.
“Eh Fan, ikhwan top itu, yang bagaimana? Caranya gimana biar bisa kayak gitu?”
“Sori Dan, kalo itu aku nggak tahu! Udah deh, kamu refreshing dulu aja. Tu tu liat, pemain favoritmu tengah beraksi! Nah lo, dia tetep tampan kayak kamu kan? Ha ha ha….,” Fandi berusaha mengalihkan pikiran Ardan. Memang, untuk masalah ini, Fandi telah merencanakan sesuatu.
“Yo yo yo, hidup Gracia!! Tendang tendang! Yo, Torres robek gawang Lehmann! Goooooooooooooollllll!!!!” Fandi berteriak sejadi-jadinya. Girang ia melihat duet Torres-Gracia membuahkan gol indah. Pahlawan matador itu akhirnya berhasil memecah kebuntuan setelah tiga puluh menit sejak peluit tanda pertandingan dimulai, serangan kedua tim selalu dapat dipatahkan. Para pemain Spanyol pun bersorak gembira merayakan gol pertama mereka. Pertandingan pun berlanjut. Akhirnya, terdengar peluit tanda babak pertama usai. Spanyol unggul 1-0 atas tim panser.
Sembilan puluh enam menit pertempuran sengit itu berlangsung. Dewi fortuna sedang berpihak pada kesebelasan di bawah komando kapten Iker Cassilas. Kedudukan tetap 1-0 bagi kemenangan Spanyol. Puas Fandi melihatnya. Namun, justru sebaliknya bagi Ardan. Pemain favoritnya begitu menyebalkan. Nggak agresif, katanya.
-_-
Puasa hari pertama telah dimulai. Fandi tampak bersemangat. Tapi, tunggu dulu! Ternyata semangatnya bukan untuk itu! (glekk!). Ia akan segera menjalankan rencananya di hari ulang tahun Ardan yang ke-23. Hmm, usia seorang yang segera memasuki masa remaja tingkat tiga. Pikir Fandi. Tapi, Ardan belum menunjukkan tanda-tanda untuk itu. Memang, dia masih agak cengeng. Fandi mulai masuk tingkat analisis. Sok banget. Hhh!!
Mahasiswa jurusan psikologi UNS itu telah merencanakan sesuatu buat sahabatnya. Kali ini ia tampak sibuk mempersiapkan alat-alat untuk melancarkan aksinya. Tanpa sepengetahuan sahabatnya, di hari terakhir menjelang Ramadhan itu, ia ingin membuat kejutan bagi Ardan.
Sore hari sepulang kuliah, Ardan tampak sangat lesu. Tentu saja, hari itu ia begitu sibuk dengan segala persyaratan yang harus dipenuhi untuk mengikuti seleksi beasiswa program S-2 di Kyoto University. Dan kali ini, ia hanya ingin melakukan satu hal. Tidur. Tiba di rumah kontrakannya yang hanya bersama Fandi ia menghuninya, Ardan segera menuju kamar tidurnya sesaat setelah menaruh sepatunya di rak. Tanpa susah-susah untuk berpikir panjang lagi, Ardan membuka pintu kamar tidurnya dengan sejuta spirit untuk segera meluruskan badannya yang pegal-pegal karena telah menempuh jarak yang cukup jauh dengan kendaraan pribadinya nan alami dan ramah lingkungan. Kedua kakiya. Akhirnya, perlahan tapi pasti, pintu kamarnya terbuka. Dan, sungguh terkejut ia. Seketika itu juga, spiritnya untuk tidur hilang. Ia seakan tak percaya atas apa ia saksikan. Memangnya, ada apa sih?
Seluruh isi kamar Ardan berubah! Semua serba pink. Banyak terpajang karangan bunga di sana-sini. Begitu juga tulisan :
Met ULTAH ke-23 Prend…!!!
Moga Panjang Umur n Bahagia….
Moga dapet pasangan hidup shalihah ye,,,
Kalo jadi ke Jepang, ikut yach!!!
Dan masih ada sederetan kata-kata mutiara serta doa-doa yang ditujukan pada dirinya. Sesuatu yang membuatnya bertambah heran, kenapa kamar tidurnya jadi kayak kamar tidur cewek. Iiih, geli Ardan rasanya! Ini pasti ulah si Fandi. Dasar tu anak kurang kerjaan. Pikirnya.
Tiba-tiba saja, pandangan Ardan tertuju pada sebuah kertas karton berwarna pink di dekat meja kecil tempat Ardan meletakkan laptopnya. Karton itu bertuliskan ‘Ardan, mantan PLAYBOY SEJATI, jadi IKHWAN SEJATI’. Tulisan itu berukuran besar hingga memenuhi karton. Saat mengangkat kertas karton itu dari tempatnya, ternyata ada sesuatu di bawahnya, sebuah kado besar berbentuk simbol ‘love’ tiga dimensi yang dibungkus kertas kado bergambar spiderman yang sedang beraksi namun ada gambar ‘love’ di dadanya. “Hmm, pasti Peter Parker sedang merindukan Marry Jane,” batin Ardan. Ardan mencermati kalimat yang ditulis di atas karton itu. Ternyata ia belum berhasil menangkap maksudnya. Mungkin karena ia terlalu payah. Kemudian, ia alihkan perhatiannya pada kado yang menyimpan sebuah makna hanya dari kertas yang membungkusnya. Entah, apa isinya. Semua itu, jelas melenyapkan rasa lelah yang ia bawa sepulang kuliah tadi. Kemudian, terlintas dalam pikiran Ardan untuk menghubungi Fandi. Sejak pagi, ia tak melihat batang hidung temannya yang sering usil pada dirinya.
“Halo, Fan kamu sekarang di mana?”
“Sori Dan, aku lagi di rumah temen nih! Gimana, kamu suka kan? Met ULTAH ya…. Jangan lupa, dibuka kadonya!” jawab Fandi dengan gaya usilnya.
“Tapi, apa maksud semua ini Fan? Kamu bikin aku pusing!”
“Tak perlu pusing Bung! Itu hanya wujud ucapan selamatku tadi,” jawab Fandi enteng.
“Tapi, kenapa harus pink warnanya? Trus, maksud tulisan di karton itu apa? Dan, aku tambah bingung memaknai gambar di kertas kado itu,” sembur Ardan yang sangat berharap Fandi akan menjelaskan perbuatan isengnya. Tepatnya, tanggung jawab maksudnya.
“Hmm, selama bulan suci ini, kuberi kau kesempatan memaknai segala apa yang menurutmu mengganjal di hatimu. Dan, aku yakin kamu pasti akan menemukannya. Dan, aku berharap untuk itu. Selamat berjuang….” jawab Fandi tetap dengan gaya usilnya.
“Tapi….,” Ardan hendak protes.
“Oh ya, sebelumnya aku minta maaf kalau selama ini aku banyak salah. Selama 15 hari aku nggak bisa nemenin kamu makan sahur atau buka, aku lagi punya proyek nih. Udah ya. Assalamu’laikum akhi,” Fandi langsung menutup teleponnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ardan yang masih menyimpan ribuan pertanyaan dalam hardisk-nya. “Akhi?!!” batinnya.
~_~
“Lima belas hari nylesein proyek apaan? Pasti bercanda. Puasa-puasa lagi. Tapi, malang banget kalo harus ngejalanin puasa sendirian. Emang sih aku jomblo, tapi bukan berarti harus hidup sendiri. Jadi kayak Om Caca. Masak masak sendiri, makan makan sendiri. Ah, nggak asyik tahu!” gerutu Ardan pagi hari setelah sembahyang subuh sekaligus sehabis makan sahur untuk kali pertama. Kejadian kemarin membuat hatinya merasa aneh. Untung saja kado yang diberikan Fandi belum ia buka. Emang ia sengaja. Kan ultahnya baru hari ini. Dengan sedikit rasa penasaran (yang banyak udah keluar kemarin, hiii) dipeganginya kado yang ia belum tahu isinya.
“Apa ya isinya? Sudah waktunya membuka belum ya?? Emm, daripada mati penasaran, mending sekarang aja,” Ardan bicara sendiri layaknya orang nggak beres.
Perlahan sekali Ardan membuka kado itu. Nggak langsung ia robek. Ia lepas tempelan-tempelan selotip yang merekatkan setiap lipatan kertas kado yang membungkus sesuatu di dalamnya. Tak sampai semenit, Ardan berhasil membuka tabir rasa ingin tahunya atas keusilan Fandi. Didapatinya dua buah buku, yang satu tebalnya sekitar 200 halaman dan lainnya buku populer karya Salim Akhukum Fillah, ‘Saksikan Bahwa Aku seorang Muslim’. Lalu, buku yang satunya judulnya apa?
“Kisah Nyata Playboy Menjadi Ikhwan Sejati? Inikah yang Fandi maksud? Sepertinya menarik!” gumam Ardan.
Sebelum membuka buku-buku itu, Ardan menemukan lagi secarik kertas berwarna pink berisi tulisan yang ditulis menggunakan tinta warna hijau. Sungguh aneh, tapi sarat makna. Tinta hijau, apa artinya? Ardan menggaruk kepalanya.
—————————————
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh…
Akhi Ardan,
Afwan, bila selama ini ana sering berbuat yang tak berkenan di hati antum
Afwan, bila selama ini ana sering usil dan menjengkelkan hati antum
tapi, itu semua ana lakukan karena ana khilaf
semua tak bermaksud apa-apa kecuali ana hanya hendak mempererat ukhuwah
ikatan persahabatan ini, ana harapkan tak putus hingga akhir hembusan nafas
ana persembahkan hadiah teristimewa ini hanya untuk antum
shohib ana dunia akhirat….
inilah hadiah teristimewa,,,
ana berharap sebuah revolusi besar kan segera antum lakukan
dalam waktu singkat, tapi mantap
saat mengenang antum mulai memasuki dunia fana,
di hari yang bersejarah ini, antum tentu mengenang betapa hebatnya seorang mujahidah menyelamatkan janinnya dengan mengorbankan segala yang ia miliki, hingga ia rela meski harus nyawanya yang harus dipertaruhkan,
Maha Suci Allah yang telah menciptakan wanita sehebat ibunda antum,
yang menyayangi antum hingga antum juga hebat seperti dia
Selamat atas bertambahnya bilangan usia antum
Selamat atas bertambahnya kedewasaan antum
Selamat atas bertambahnya ilmu antum untuk menatap bentangan samudera kehidupan
Namun di sisi lain, ana hanya sekedar mengingatkan antum, bahwa jarak tempuh antum ke pintu liang lahat juga semakin mendekat seiring berjalannya waktu,
semua insan kan merasakan saat-saat itu
saat dunia kan melambaikan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal pada kita dengan senyum kecutnya
tapi, jangan khawatir akhi, dengan memperjuangkan din-Nya, dan membuka bank amal yang senantiasa kita setor di setiap hembusan nafas, Insya Allah itulah yang mempermudah perpisahan kita dengan dunia
Saudaraku, di bulan yang suci nan mulia ini, seorang bayi akan lahir dari celupan warna Ilahi, dialah seorang ikhwan sejati, ismuhu, Ardan Al Husaini..
Dan tahukah kau saudaraku, sengaja kutulis isi hatiku ini menggunakan tinta hijau, bahwa hijau adalah warna surga. Ana berharap, kita kan bertemu di sana, menjumpai Rabb kita…. Aaamiiin….
Selamat berselancar di lautan rahmat dan ampunan, menuju kemenangan menjadi ikhwan sejati sepanjang zaman.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
Sahabatmu
——————————————–
Tak terasa, air mata keluar dari sudut mata mantan playboy itu. Sungguh, ia tak menyangka, di bagian hati terdalam sahabatnya tersimpan setitik kemuliaan. Ia tak mengira, seorang Fandi yang ia pikir hanya seorang yang biasa saja, suka bercanda, dan mengoloknya setiap ada dara jelita mendekatinya, ternyata memiliki perhatian besar pada sahabatnya, tepatnya Fandi sebut, saudara. Tiba-tiba saja, Ardan merasa rindu pada keluarganya di Magetan, khususnya sang ibu. Ia sekarang seperti merasa sedang di dalam bui, terisolasi. Tapi, ia merasakan percikan kasih sayang seorang ibu dan seorang sahabat. Kasih sayang yang luar biasa.
Perlahan Ardan membaca buku pemberian Fandi, selembar demi selembar. Ia berusaha mencermati kata demi kata. Ardan merasa bahwa Fandi sekarang sedang menjelma menjadi buku yang ia baca. Meskipun ia tak bisa diajak bicara, namun buku itu tiba-tiba saja begitu keras mengetuk pintu hatinya. Entah kenapa, wajah Fandi seperti selalu terpampang di antara puluhan ribu huruf yang tercetak dalam buku yang dibacanya. Ardan pun seakan tak ingat lagi dengan dara-dara jelita pengagumnya yang selalu mengejar-ngejar dirinya. Ia akan bermetamorfosis dari seekor ulat menjijikan, menjadi kupu-kupu yang elok rupawan.
*_*
Segala sesuatu butuh proses. Sesuatu yang awalnya buruk akan berubah menjadi sangat indah pun, juga butuh tahapan. Seorang yang bodoh akan menjadi jenius jika ia terus belajar, mengasah kemampuan, sedikit demi sedikit, setapak demi setapak. Dan kini, seorang playboy kelas kakap pun ternyata bisa menjadi seorang ikhwan. Ya, Ardan kini telah membulatkan azzamnya untuk ikut serta dalam barisan tentara pembela agama Allah. Intanshurullaahayanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum. Itulah yang sekarang terpatri dalam hati seorang Ardan Al Husaini.
Sebuah tulisan terpajang di dinding kamarnya yang masih serba pink, ‘Change Your Self’, memotivasi dirinya untuk menuju kemenangan. Semangatnya begitu membara untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan. Akan tetapi, ada secuil ketidaknyamanan dalam hatinya karena Ardan harus menjalani hidup seorang diri tanpa Fandi hingga puasa hari kelima belas. Kurang tiga hari lagi, pikirnya. Herannya, handphone Fandi tak pernah aktif sejak ia menghubunginya hari terakhir sebelum puasa.
Dan lagi, Ardan masih merasa beruntung setelah ia ikut dalam kepengurusan Masjid Al Kautsar di kampusnya. Meskipun bertambah kesibukannya, ia sangat menikmatinya. Satu hal yang membuatnya sedikit tersanjung, yaitu saat teman-teman seperjuangannya di masjid itu, memanggilnya, Akhi Ardan! Wah, benar-benar GR dia. Hiks!
Tak hanya menambah kesibukan menjadi pengurus kegiatan. Ardan pun berusaha menambah ibadah mahdhahnya. Ia yang jarang dan hampir tak pernah shalat tahajud, sekarang tak pernah bolong. Tilawah pun bertambah, sehari satu jus. Target khatam dalam sebulan! Ardan pun bertekad menghafalkan jus 28, 29, 30 sebelum menghafal Al Qur’an seluruhnya. Subhanallah, semangatnya benar-benar telah terbentuk begitu kokoh. Begitu cepat!
Sudah memasuki hari kelima belas Ramadhan, Fandi belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal, tinggal beberapa menit lagi waktu buka puasa. Ardan telah mempersiapkan segala makanan kesukaan Fandi hari itu. Ardan yakin Fandi akan membuat kejutan lagi.
“Fan, lihatlah aku sekarang ini. Aku harap, kau segera kembali. Dan, nggak main-main lagi,” kata Ardan dalam hati.
Namun, hingga terdengar adzan maghrib Fandi belum datang juga. Ardan tiba-tiba merasa tak enak hati. Akhirnya, ia putuskan untuk shalat maghrib dulu sebelum berbuka. Ia hanya makan sebuah kurma dan minum segelas teh hangat.
Ardan makin tak mengerti, hingga selesai shalat tarawih, Fandi masih belum pulang juga. Lalu, Ardan berusaha menghubungi teman-teman Fandi. Sungguh lega hatinya. Ia berhasil menemukan di mana Fandi berada, lewat hp temannya.
“Sori prend, hp-ku dicuri orang and belum sempat hubungi kamu. Lagi sibuk banget nih, he he he…” oceh Fandi di seberang.
“Tapi kamu nggak pa pa kan? Bikin bingung aja. Eh Fan, proyek apaan sih? Sampe segitunya nglupain temen!” gerutu Ardan.
“Hmm, rahasia donk! Tapi, kamu nanti pasti tahu deh and bakalan ngrasain juga untungnya,” jawab Fandi, tetap dengan nada gurauan.
“Jangan jangan proyek narkoba lagi! Haram tau!”
“Waah, ya nggak donk! Su’udzon melulu bawaannya!”
“Kamu nggak pulang hari ini, Fan?!”
“Aduh, sori prend, kayake nggak bisa. Mungkin malam hari raya aku baru bisa pulang. Sori banget ya Dan, kamu cari temen lain aja buat nemenin kamu di kontrakan,” usul Fandi.
“Ya udah kalo gitu. Ati-ati aja. Jangan berbuat macem-macem di bulan puasa lho!” pesan Ardan.
“Iya Pangeran…. Assalamu’alaikum,” Fandi memutus sambungan telepon sambil tersenyum lega. Entah apa yang ada di dalam hatinya.
-_-
Hari-hari berlalu dengan spirit baru. Ardan memang merasakan dirinya telah baru. Ia kini, bukan Ardan saat SMA. Bukan Ardan yang selalu hidup dengan sejuta bidadari nan cantik jelita. Ia sempat tertawa geli mengingat segala pengalaman konyolnya masa lalu. Betapa mudah ia dibodohi oleh rayuan wanita-wanita penggoda. Bodoh! Bodoh sekali! Betapa kotor tanganku yang telah menyentuh kulit-kulit yang bukan muhrimku. Sungguh! Air seberapapun tak kan bisa membersihkannya, kecuali hanya kembali kepada-Nya. Kisah cinta itu, benar-benar membuatnya gila dan terpedaya dunia. Ardan pun, hendak menghapus semua itu dari memorinya yang lama. Ia akan segera menjadi seekor kupu-kupu yang indah warnanya. Namun, bukan untuk menarik wanita. Melainkan hanya untuk Allah semata.
Seiring dengan hari-hari puasa yang begitu cepat berlalu, Ardan semakin disibukkan dengan kegiatan Ramadhan di kampusnya. Namun, itu semua seperti terasa amat ringan di kala tangan-tangan suci dan jalinan erat ukhuwah selalu menyelubunginya. Dan satu lagi yang membuatnya begitu bersemangat, tinggal selangkah lagi, beasiswa kuliah di Kyoto akan diperolehnya. Dan tahun depan, ia akan segera meninggalkan ibu pertiwi, dan juga Fandi. Ia berharap, tes terakhir akan dilaluinya dengan lancar.
Sepuluh hari menjelang hari raya, Ardan mengajak dua teman jurusannya untuk menginap di kontrakannya. Ia tak tahan kalau harus hidup sendiri.
“Nah, kalo gini kan rame. Gimana Rud, kamu mau kan nemenin aku sampe bedug hari raya?” tawar Ardan pada temannya yang bernama Rudi.
“Ya, boleh-boleh aja. Gue akan anggap ini rumah sendiri,” jawabnya.
“Nah, kamu kan jago masak, so semua bahan-bahan akan kusediain, tinggal kamu mengolahnya buat kita,” usul Ardan.
“Ide bagus tuh!” sambung yang lain. Ali namanya.
“Oke! Itung-itung amal di bulan Ramadhan. Siapa takut? Pokoknya tinggal masak aja yach!” balas Rudi.
“Setuju! Yang penting kita harus kerja sama. Team work. Oh ya, aku punya usul nih. Gimana kalo malam hari raya kita masak agak banyakan, trus kita bagi-bagi tuh makanan ke anak yatim and fakir miskin sekitar sini. Gimana? Sepakat nggak nih?” tiba-tiba saja ide itu muncul dari lubuk hati terdalam Ardan.
“Waaah, mulia baangeeetzz, co cweet! Tapi, kita juga harus tahu data anak yatim sama fakir miskin sekitar sini, biar kita bisa ngira-ngira seberapa banyak makanan yang akan di masak oleh chef Rudi, he he he….” goda Ali sekaligus menyumbang saran.
“Cocok!” seru Rudi dan Ardan hampir bersamaan. Ketiganya tertawa cekikikan.
Hari itu Ardan merasa tak kesepian lagi. Ditemani Rudi dan Ali, Ardan tambah bersemangat. Apalagi, semangat ibadahnya kian menunjukkan kenaikan yang siginifikan. Emang, peran Rudi dan Ali juga besar dalam hal ini. Mereka berdua juga anak mesjid lho! Tilawah Ardan makin sering di akhir-akhir bulan puasa ini.
Sementara itu, kuliah pun tetap berjalan semestinya, namun penuh dengan berbagai hikmah kehidupan. Tes terakhir beasiswa ke Jepang akan dijalaninya esok hari. Ardan yakin, ia bisa. Ia percaya itu, karena Allah akan menuruti persangkaan hamba-Nya. Segalanya telah Ardan persiapkan untuk menghadapi tes terakhir yang amat menentukan itu. Tinggal bagaimana esok kan berjalan dengan kemantapan iman.
>_<
Tak terasa, begitu cepat waktu berlalu. Saatnya menyambut hari ketika insan-insan terpilih merayakan kemenangan setelah mendapatkan rapor dengan predikat seorang muttaqin. Hari bahagia di malam hari raya, begitu berkesan dalam hati Ardan. Rencana yang ia susun bersama Rudi dan Ali pun telah mereka laksanakan dengan lancar. Terlihat wajah-wajah girang bocah-bocah cilik tak berdosa yang telah kehilangan orang yang amat mencintinya dan yang sungguh mereka cintai pula. Ungkapan terima kasih terus mengalir dari lisan mereka yang merasa sangat dipedulikan. Ardan cs. pun berharap, pahala juga mengalir di saat bintang-bintang tersenyum menyaksikan hamba-hamba-Nya menyantuni makhluk-Nya.
Kebahagian itu makin memuncak. Ardan berhasil mendapatkan beasiswa kuliah S-2 di Kyoto University. Dan, orang yang pertama kali ia beri tahu, adalah ibunda dan ayahanda. Mereka tak kuasa menahan tangis mendengar berita yang begitu menyejukkan telinga. Lengkap sudah! Seiring dengan seruan takbir yang menggetarkan kalbu, Ardan merayakan keberhasilannya itu bersama kedua sahabatnya.
Namun, di sisi lain, kenikmatan yang begitu besar itu tak membuat Ardan lupa pada jasa besar Fandi yang memotivasinya hingga ia menjadi seperti sekarang ini. Sebuah penantian yang melelahkan. Selepas isya’, batang hidung calon psikolog itu tak muncul juga. Ardan berusaha bersabar menunggunya. Kehadiran Rudi dan Ali mengurangi rasa kahwatirnya pada Fandi.
Ketika jam telah menunjukkan pukul 21.30, terderang suara ketukan di pintu ruang tamu. Seorang cowok berumur kira-kira 19 tahun mengantarkan sepucuk surat pada Ardan. Dan agaknya, rasa lelah untuk menanti pun terhapus jua. Ternyata, surat itu dari Fandi. Katanya dalam surat itu, Fandi belum bisa pulang hari itu. Dan, sesuatu yang membuat Ardan terhenyak, ada di bagian akhir surat Fandi.
—————————————
Maafkan aku Dan, aku tak bisa kembali ke kontrakan hari ini, mungkin besok atau lusa
Maafkan jika aku sering berbuat salah padamu
Sebenarnya, semua hadiah istimewa di hari ulang tahunmu, bukan dariku
Aku hanya sebatas menjalankan perintah
Tapi, jangan khawatir Dan, itu semua hanya buat kebaikanmu kelak
Ia adalah seorang cewek berhati sebening embun di pagi hari
Kamila Nasyita…
Ya, dialah seorang akhwat yang sebenarnya amat kau rindukan
Dan, tulisan bertinta hijau itu, keluar dari dalam hatinya
Dan, ada berita gembira buat Pangeran Ardan,
Ia ingin kau meminangnya…
Esok hari hari, paling lambat hari ke-7 bulan syawal
Ia telah mempersiapkan segalanya di bulan puasa
Janganlah kau kecewakan ia untuk kedua kalinya
Terimalah ia yang tak putus asa menantimu,
sebagai pendamping setia dalam hidupmu
aku mohon….
sahabatmu
Fandi Ahmad
——————————————-
Seketika, Ardan tak bisa membendung air matanya. Kerinduannya pada Fandi belum pernah sebesar ini. Semua seakan seperti dalam dunia mimpi. Ardan tak percaya, ternyata akhwat yang selama ini tak digubrisnya, mempunyai perhatian besar pada dirinya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, ia belum siap menerima tawaran Mila.
Rudi dan Ali yang sejak tadi diam, terbengong-bengong saat Ardan melakukan adegan yang belum pernah sekalipun mereka ketahui. Mereka merasa penasaran, ingin tahu isi surat yang dibaca Ardan hingga membuat ekspresi kebahagiaan yang terpancar sejak sore tadi, berubah menjadi seonggok rasa sedih yang mendalam. Ardan pun tak bisa menyembunyikan isi hatinya. Terpaksa ia ceritakan segalanya mulai dari awal.
“Selamat ya Dan, kamu pantas mendapatkan wanita shalihah seperti dia. Insya Allah ia bisa membahagiakanmu,” Ali berusaha memberi dorongan.
“Wah, malam yang istimewa buatmu, Kawan! Udah, jangan sedih gitu dong!” celetuk Rudi.
“Terima kasih. Tapi, aku, aku tak bisa menerima tawaran itu!” suara Ardan terdengar berat keluar dari lisannya.
“Kenapa???! Kamu jangan ngecewain dia Dan!” protes Ali.
“Bukannya itu kemauanku Al. Tiga bulan ke depan aku harus mengikuti karantina di Jakarta sebagai persiapanku berangkat ke Jepang. Dan, aku akan semakin sibuk dengan semakin berjalannya waktu menjelang keberangkatanku nanti. Jika aku menikah sekarang, apakah ia akan kutinggal setelah itu? Aku lebih tak tega. Jika ia mau lebih sabar menungguku, aku terima tawaran itu,” jelas Ardan panjang lebar.
“Hmm, sepertinya ini sulit,” gumam Ali.
“Jika upacara sakral itu dilakukan dalam waktu sepekan ke depan, sungguh, aku mengaku bahwa aku belum siap. Tiga puluh hari, aku telah bersusah payah membangun spiritku menemukan cinta sejati dari Rabb-ku, dan cintaku untuk terus menimba ilmu. Aku putuskan untuk tak menikah dulu sebelum aku bisa melanjutkan kuliah S-2. Dan mungkin, aku baru bisa melakukannya di tengah-tengah saat aku menempuh program S-2. Tekadku sudah bulat, Al, Rud!” jelas Ardan dengan sedikit rasa kecewa dalam hatinya.
“Yah, mau bagaimana lagi. Keputusan terakhir hanya ada di tanganmu. Memang, kami tak bisa memaksamu Dan!”
Pandangan Ardan tertuju pada bulan sabit yang seakan enggan menemaninya malam itu. Bintang-bintang pun tak secerah kemarin. Kuharap, malam yang berubah menjadi begitu dingin, kan menjawab semuanya, pikirnya dalam kekalutan.
@_@
Filed under: refresh your mind Tagged: | karyaku






