Tiga puluh hari mencari cinta
Waktu telah berjalan dua puluh menit sejak seorang berperawakan tinggi kurus berkaca mata tebal memasuki sebuah toko buku “Golden Millenium” di kawasan jalan Terang, tak jauh dari kantor pos Surakarta. Ia sedang sibuk memilih buku teristimewa yang akan diberikannya pada sahabat seangkatannya, yang akan segera menyambut hari bersejarahnya saat ia keluar dari rahim ibunda tercinta. Tinggal sepekan lagi, pas dengan hari pertama bulan puasa. Sambil memencet-mencet tombol di telepon selulernya, cowok berusia tak kurang dari dua puluh empat tahun itu tiba-tiba tertuju pada sebuah buku yang menurutnya sangat menarik, masih dilihat dari judulnya tentunya. “Ancaman Bagi Sang Playboy”. Tak puas sampai di situ, ia juga merasa harus mengambil buku tepat di samping buku pertama yang menarik perhatiannya. “Kisah Nyata Playboy Menjadi Ikhwan Sejati”. Langsung saja ia disibukkan untuk memilih di antara dua buku yang makin menyita waktunya.
“Sayang sekali bukunya disegel! Sialan tuh produsennya, pelit banget! Gue kan jadi nggak tahu isinya!” umpatnya pedas hingga seorang ibu-ibu yang berdiri di samping cowok itu menggeleng-geleng kepalanya pertanda bahwa ia sedang berkata dalam hatinya, “Dasar anak muda, maunya sendiri, egois!”
Seperti merasakan hal itu, Fandi, nama cowok itu, melanjutkan aksi nakalnya.
“Enaknya, apa ku sobek aja ya plastiknya? Hmm, ide bagus!” dengan nada mengetes si ibu tadi, Fandi berpura-pura akan mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeans-nya.
“Eh Nak Nak, jangan macam-macam ya. Ini toko buku. Jangan sembarangan merusak barang-barang di sini,” kata si ibu dengan nada setengah membentak.
Fandi tersenyum. “Siapa bilang ini toko onderdil Bu? Akhirnya, bicara juga, he he?!” batin Fandi penuh kemenangan. Tanpa menjawab semburan si ibu tadi, dalam sekejap ia telah berhasil memilih salah satu buku yang sempat membuatnya bingung. Kali ini, ia yakin bahwa buku yang dipilihnya adalah pilihan yang tepat. Segera ia menuju ke kasir dan membiarkan si ibu menyaksikan bentakannya pada Fandi, menguap tak berarti. Dengan segenap rasa cueknya, Fandi berjalan tanpa beban ke arah kasir di lantai dasar toko buku tersebut.
Setelah membayar, Fandi tak punya niat lagi untuk pergi ke manapun. Ia hanya ingin segera membungkus buku itu dengan kertas kado bergambar spiderman yang telah ia persiapkan tadi malam. Segera ia masuk ke dalam angkutan kota menuju kontrakannya dan tetap menggenggam tas kresek berisi buku yang baru dibelinya.
Lima menit berlalu dalam angkutan kota yang makin sesak oleh para penumpang. Dasar si Fandi yang kurus, ia hanya mendapat tempat duduk kira-kira lebarnya cuma lima belas sentimeter. Oh, kasihan sekali dia. Hampir saja ia berhenti bernapas karena tempat duduknya begitu sempit sebelum akhirnya ia berhasil mengerahkan segala kekuatan untuk segera meminta si sopir menghentikan laju kendaraannya.
“Kanan Pak kanan Pak!” teriak Fandi tak tanggung-tanggung.
“Hei, mana mungkin angkot berhenti di kanan jalan seramai ini! Mau bunuh diri apa??!! Dasar goblok!!” bentak si sopir dengan kasarnya membuat Fandi sedikit gemetar dan sesaat ia lupa atas apa yang ia lakukan sebelumnya karena belum pernah ia dibentak oleh seorang sopir angkot. Sontak semua penumpang melepaskan tawa ejekan pada Fandi dan semua wajah yang sama sekali tak dikenalnya dalam angkot itu tertuju padanya. Jantungnya berdegup kencang.
“M-maaf Pak! Saya kira angkotnya berjalan di sebelah kanan!” jawabnya dengan muka bodoh.
Kembali tawa ejekan yang menyayat hati si kurus itu terdengar begitu lama di telinganya.
“Nggak lulus TK aja, sok banget sih lu!” komentar seorang laki-laki berwajah garang dan berkumis tebal tanpa perhitungan.
Angkot telah berhenti semenit yang lalu. Sekarang Fandi bingung apa yang harus diperbuat. Jantungnya masih berdegup kencang. Rasa bingungnya makin memuncak setelah sadar di mana ia harus meletakkan mukanya yang terlihat merah. Malu. Lalu, ia hanya diam kaku di tempat duduknya yang tak berubah, masih sempit.
“Hei, malah bengong ni bocah. Ayo turun!!” bentak si sopir untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini tak sekeras yang tadi.
Tanpa berpikir panjang, Fandi langsung turun dan berjalan dengan langkah gontai di atas trotoar. Sebelum bisa menenangkan pikirannya, seorang memegang pundaknya dengan kasar.
“Memangnya kamu ini pak presiden apa, maunya naik angkot nggak bayar, heh!!” Ternyata orang itu adalah sopir angkot tadi. Fandi seakan putus asa. Masih belum selesai juga masalahnya hari itu.
“M-maaf Pak, saya lupa,” jawabnya dengan kepala tertunduk.
“Sudah goblok! Pelupa lagi! Sekolah di mana sih?”
“Di UNS Pak!” Jawab Fandi layaknya orang yang terhipnotis.
“Oo, jadi seperti ini ya mahasiswa UNS! Buruk sekali! Baiklah, bayar sekarang. Sepuluh ribu!”
“Lho Pak, setahu saya bayar angkot nggak semahal itu!” protes Fandi dalam keraguan.
“Ini sebagai pajak atas kelakuanmu yang membuatku sebal!”
“Rasa sebal itu datang sendiri dari diri Bapak sendiri. Jika Bapak bisa lebih sabar menghadapi saya yang hanya manusia biasa, Bapak nggak akan sesebal ini pada saya,” tiba-tiba perkataan Fandi begitu terarah. Ia sendiri merasa ada sesuatu yang beda dari perkataannya barusan.
“Jangan cerewet! Banyak penumpang marah gara-gara kamu memperlambat perjalanan mereka! Cepat serahkan uang sepuluh ribu itu!” bentak si Sopir bak seorang tukang todong.
Ingin segera selesai masalahnya, Fandi langsung mengambil uang kertas berwarna ungu dari dompet kulitnya dan menyerahkannya dengan berat hati pada sopir garang itu. Kemudian, sopir angkot itu langsung pergi meninggalkannya setelah tak berkata sepatah pun kepada Fandi yang masih shock dengan kejadian menyesakkan hari ini. Segera ia menuju kontrakannya seakan tak ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Pikirannya kembali pada hadiah istimewa yang akan diberikannya pada sahabat karibnya tujuh hari kemudian.
^_^
“Fan, udah makan? Ni aku buatkan mi rebus. Sejak siang aku nggak lihat kamu makan. Tambah kurus nanti,” tanya teman sekontrakan pada Fandi, bak seorang ibu yang menawari makanan untuk anaknya.
“Kamu kok tampak lesu banget sih? Ada masalah?” tanyanya kemudian.
Untuk saat ini, Fandi sedang no comment. Temannya itu tambah penasaran. Ia lalu meletakkan semangkuk mi rebus buatannya di meja belajar Fandi. Ia mendekati Fandi yang sedang asyik menatap langit-langit kamarnya.
“Lagi mikir apa sih kok serius banget sampe nggak mau makan? Kamu nggak suka mi buatanku ya? Ya sudah, aku makan sendiri aja!”
“Eh eh eh, tunggu. Bukannya aku nggak mau. Aku emang lagi mikir nih!” jawab si Fandi dengan wajah begonya.
Temannya tersenyum melihat Fandi yang plin plan.
“Lagi mikir apa sih? Bikin penasaran aja Fan. Habis ditembak cewek ya?” tanyanya sambil cengengesan.
“Aku lagi mikir, kenapa kamu yang dulu seorang playboy, sekarang jadi perhatian sih, Dan?” Fandi langsung ceplos pada sahabatnya sejak SMA itu yang bernama Ardan.
Ardan yang tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti, menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia tak mengerti maksud Fandi. Ia yakin kalau temannya yang mempunyai berat badan 48 kilogram itu hanya bergurau. Ardan diam. Fandi pun diam. Suasana hening. Entah kenapa malam ini tampak berbeda dengan malam sebelumnya. Fandi yang sering bicara asal-asalan, kini tampak serius. Sementara itu, Ardan yang sebelumnya cuek dengan jadwal makan Fandi, tiba-tiba saja menawarkan semangkuk mi rebus untuknya dan tampak menaruh secuil perhatian padanya. Sepertinya, tak hanya Fandi yang dapat masalah setelah peristiwa konyol tadi siang. Tapi, Ardan juga menyimpan sesuatu dalam pikirannya yang tak diketahui sahabatnya. Fandi pun sebaliknya. Read more »
Filed under: refresh your mind | Tagged: karyaku | Leave a Comment »